Memulai Nge-Blog di Tahun 2020? Belum Telat, Kok!

Sekarang kan zamannya nge-vlog, podcast, ngonten di sosmed. Emang masih ada yang nge-blog? Emang orang-orang bakal seneng baca tulisan panjang-panjang? Pernyataan itu yang sering dikatakan orang ketika pertama kali mendengar kata blogging di era sekarang ini. Sejak kemunculan ragam media sosial dan fitur-fiturnya, perilaku masyarakat dalam mengonsumsi konten pun ikut berubah. Semula orang memperoleh informasi lewat koran, sampai muncul televisi dan radio. Lalu di tahun 2004, muncul Facebook yang menjadi

Merencanakan yang Tidak Terlaksana

“Tumben Mbak Alfa lucu ki..” (mengecek kalender di handphone) “Ooh iyo, iki dino Seloso. Biyen pas lagi ngelucu yo pas dino Seloso.” “Ah, moso sih?” “Iyo, nek Senin ki mesti remote (working), alesane gawe paspor, neng Solo. Seloso lucu, Rebo tekan Kamis kae mesti meneng dewe neng ngarep laptop, Jumat muleh gasik. Wes ngono kui terus dibaleni mben minggu.“ – Kurang lebih seperti itulah teman kerjaku membaca siklus (Mood? Vibes?

This Anxiety That Kills

I didn’t believe that I’d start writing about my self in the first week of 2020. I ever promised to my own, that I would be more selfless and self-careless. Yet somehow, I just couldn’t hold myself back when the bad thought appeared so sudden to my mind. It ruined a whole day that I couldn’t do anything well, I couldn’t even pick a rational decision for myself. I knew

Meluruskan Niat Menulis

Belakangan ini aku sering membuka blog-ku, cuma scrolling gak jelas di beberapa posting-an terakhir. “Lama aku tidak menulis..” – pikirku. Memang kalau bukan terlahir sebagai penulis atau pencerita akan sulit untuk menjaga konsistensi menulis, bahkan untuk secara rutin memproduksi tulisan. Padahal, di dalam kepala ini sudah penuh dengan opini, pertanyaan, racauan, yang berujung pada overthinking yang gak ada obatnya. Lalu aku menelisik kembali; “Untuk apa sih aku menulis?”. Barangkali, kalau

Cerita Saya dan Aku

Di sudut ruang kerja, bersama kursi yang berjajar–kosong– ditinggal pemiliknya. Aku menahan air mataku luruh bersama suara kendaraan lalu lalang. Dalam suasana hati yang berantakan, aku bertanya pada saya; mengapa kau begitu keras kepala? Memenjarakan dirimu dengan aku? Padahal aku– penuh dengan keangkuhan dan keakuan. Aku jauh segala kebaikan yang dibayangkan orang-orang. Lalu saya pun membisu. Ternyata saya pun sama saja. Hanya manusia yang dipenuhi prasangka akan sesamanya. Aku dan

#AudreyJugaBersalah: The Backfire of Virality

So, just probably a week ago we were shocked by the news from Pontianak junior high school girl who was being bullied by (reportedly) 12 high school students getting viral on Twitter. This news spread worldwide easily and fast became 1st Twitter trending in just a day. People then showed their support through some of these efforts below; When I once saw this, one thing that crossed in my mind

Maudy VS Me

I want to challenge my self to write spontaneously about certain topics and post it immediately without thinking about revising it. There’re lots of topics, from general into more complicated ones, politics to social media trending, well… anyway, it also has been my desire to deliver my opinions in politics but I ain’t that confidence enough, so lemme start this writing discussing Maudy Ayunda’s acceptance to two top unis. P.S:

Memeluk Jogja dan Jakarta, Bersama

Yogyakarta, terdiri dari rindu, kenangan, dan angkringan. Begitu kata orang-orang. Kota Jogja memang tidak pernah kehabisan cerita untuk dibagikan. Enam bulan menjadi penghuni nomaden di kota ini, belum sedetikpun aku merasa menyesal, kecewa, atau ingin pindah saja. Kehidupanku berganti ritme dengan sendirinya. Berangkat kerja, saat matahari berada sejajar dengan mata memandang. Pulang kerja, saat bintang belum tergantung di langit malam. Waktuku tersisa banyak untuk berbenah diri dan kamar sesekali. Kota

Di Pertemuan Jakal dan Monjali

Di sebuah sore menjelang malam, di pertemuan jalan Kaliurang dan Monjali. Pandangan mataku terhenti di sepanjang sudut perhentian kendaraan. Ketika sekumpulan orang berkerumun berbincang. Bapak paruh baya, kakinya bersila, tangan kirinya memegang rokok yang tinggal seujung. Memakai topi pantai berdebu, bajunya usang bekas bermain dengan jalanan. Membelakangi gerobak tua panjang, yang rodanya tidak lagi bulat sempurna. Pria tinggi kurus, kulitnya hitam tidak begitu terawat, tangannya meregang sambil bercerita penuh semangat.

Resign Story

I am sitting on my (new-)office chair. Actually not completing any works, just spending time to do socmed and Youtube scrolling. I am recalling my old memories of how my office story was going times ago. Banyak orang nanya, kenapa sih resign? Pertanyaannya gak sulit sih, tapi ngejelasin biar seolah gak merasa tersakiti aja yang sulit. Aku anaknya gak suka menyebarkan keburukan sebetulnya. Dan i didn’t actually resign. How if